HomeBeritaPeternak Lebah Gaza Bangkit di Tengah Kehancuran

Peternak Lebah Gaza Bangkit di Tengah Kehancuran

KOTA GAZA – Para peternak lebah di Gaza yang kehilangan tempat usaha dan mata pencaharian akibat serangan Israel kini mengembangkan solusi tak biasa untuk menghidupkan kembali profesi mereka dan memulihkan diri dari kehancuran akibat perang, sebagaimana dilansir Anadolu.

Peternak lebah Palestina yang mengungsi, Ibrahim al-Dabba, kembali memproduksi madu dengan menempatkan sarang-sarang lebah di atap sebuah gedung apartemen yang rusak di kawasan Tel al-Hawa, selatan Kota Gaza. Kondisi keamanan membuatnya tidak dapat menjangkau lahan pertanian.

Al-Dabba, yang juga mengepalai Koperasi Peternak Lebah Jalur Gaza, mengatakan kepada Anadolu  industri peternakan lebah sebelum perang menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 10.000 orang di seluruh Gaza.

Sebelum serangan, sekitar 1.000 peternak lebah aktif di wilayah tersebut. Sekitar separuh merupakan produsen skala besar dan separuh lainnya produsen skala kecil. Ia menambahkan  Gaza sebelumnya mampu menghasilkan madu dalam jumlah besar.

Menurut al-Dabba, seperti halnya sebagian besar sektor produktif lainnya, industri peternakan lebah hampir sepenuhnya hancur akibat serangan Israel.

Para peternak lebah berupaya melanjutkan produksi setelah gencatan senjata, tetapi tidak mendapatkan dukungan yang memadai, ujarnya.

Jumlah sarang lebah di Gaza sempat turun hingga kurang dari 500 setelah perang, tetapi kemudian meningkat menjadi sekitar 3.000 melalui rencana pemulihan yang dikembangkan oleh koperasi. Lebih dari 100 peternak lebah juga telah kembali berproduksi.

Meski mengalami peningkatan, sektor tersebut masih menghadapi kesulitan berat karena hampir seluruh peralatan penting untuk beternak lebah dilarang masuk ke Gaza.

“Hampir seluruh peralatan yang digunakan dalam peternakan lebah, terutama bingkai sarang, lembaran dasar lilin, obat-obatan, perlengkapan perawatan, dan sarang kayu, tidak diizinkan masuk ke wilayah ini,” kata al-Dabba. “Segala sesuatu yang kami butuhkan mengalami kelangkaan.”

Al-Dabba mengatakan dirinya memulai kembali usaha dengan hanya tiga sarang lebah setelah perang, tetapi jumlahnya kini telah bertambah menjadi lebih dari 35 sarang.

‘Melihat Lebah Bertahan Hidup Memberi Kami Harapan’

Sebagian besar lahan pertanian sulit diakses karena banyak di antaranya berada di dekat zona perbatasan. Kondisi ini memaksa al-Dabba memindahkan sarang-sarang lebahnya ke atap gedung apartemen yang rusak tersebut.

Sarang kayu yang ditempatkan di area terbuka juga rentan dicuri dan dihancurkan, katanya. Kayu sendiri semakin berharga akibat pembatasan masuknya bahan bakar dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Mencapai sarang-sarang di atap juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, kemampuan lebah beradaptasi dan bertahan hidup di lokasi yang tidak biasa tersebut memberikan semangat bagi peternak yang mengungsi itu.

“Ketika kami melihat lebah-lebah itu berjuang untuk bertahan hidup di sini, hal itu juga memberi kami harapan,” kata al-Dabba.

Ia menambahkan  para peternak lebah di Gaza tetap bertekad melanjutkan profesi mereka dan memulihkan sektor tersebut, meski menghadapi kondisi yang sangat sulit di seluruh wilayah Palestina tersebut. (ofr)

ARTIKEL TERKAIT

Terkini