GAZA CITY — Pada 28 September 2000, pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon mengunjungi kompleks Haram al-Sharif/Temple Mount di Yerusalem, dikawal sekitar 1.000 polisi. Kunjungan itu dirancang untuk menegaskan kedaulatan Israel atas situs suci tersebut. Keesokan harinya, bentrokan pecah di berbagai penjuru Yerusalem — tujuh demonstran ditembak mati polisi, menandai awal Intifada Al-Aqsa, atau Intifada Kedua, yang berlangsung hingga awal 2005.
Kekerasan menyebar cepat ke Tepi Barat dan Jalur Gaza. Pada pekan pertama saja, tujuh puluh warga Palestina tewas akibat respons militer Israel. Berbeda dari Intifada Pertama (1987–1993) yang didominasi demonstrasi jalanan, batu, dan pemogokan sipil, Intifada Kedua ditandai kombinasi baku tembak bersenjata, serangan bunuh diri, penembak jitu, dan operasi militer berskala besar — sebuah eskalasi yang oleh sejumlah sejarawan digambarkan sebagai perpaduan pengalaman gerilya faksi Palestina di Lebanon dengan pengalaman perlawanan sipil Intifada Pertama.
Kematian Muhammad al-Durrah di Netzarim
Pada 30 September 2000, hari kedua Intifada, sebuah insiden di Gaza menyita perhatian dunia. Muhammad al-Durrah, bocah 12 tahun, tewas di persimpangan Netzarim, selatan Gaza City, saat berlindung bersama ayahnya, Jamal al-Durrah, di tengah baku tembak antara pos militer Israel dan kelompok bersenjata Palestina — termasuk sejumlah polisi Otoritas Palestina — yang menyerang pos tersebut dengan bom molotov dan senjata otomatis.
Kejadian ini direkam kamerawan Palestina Talal Abu Rahma untuk stasiun televisi Prancis, France 2. Rekaman yang disiarkan koresponden Charles Enderlin — memperlihatkan ayah dan anak berlindung di balik tong beton sebelum tembakan dan debu menyelimuti keduanya — menjadi salah satu citra paling ikonik Intifada Kedua, memicu kemarahan luas di dunia Arab dan Muslim.
Siapa pihak yang menembakkan peluru yang menewaskan al-Durrah tetap menjadi perkara yang disengketakan hingga kini dan perlu dicatat dengan hati-hati. Militer Israel awalnya meminta maaf atas insiden itu, namun investigasi internal lanjutan menyimpulkan bocah tersebut kemungkinan tidak tertembak peluru Israel. Sebaliknya, gugatan pencemaran nama baik terhadap seorang kritikus rekaman France 2 di pengadilan Prancis sempat dimenangkan pihak penggugat pada tingkat banding sebelum putusan itu sendiri menjadi bahan perdebatan hukum lebih lanjut. Artikel ini tidak mengambil posisi atas kontroversi tersebut dan mencatatnya sebagai fakta yang belum terverifikasi secara tuntas — bukan sebagai insiden yang telah selesai secara forensik di satu sisi maupun sisi lain.
Permukiman Gush Katif: Sasaran Serangan Berulang
Di dalam Jalur Gaza, 21 permukiman Israel — sebagian besar terkonsentrasi di blok Gush Katif, selatan Gaza, dengan Netzarim dan Kfar Darom sebagai kantong-kantong terpisah — menjadi target serangan berulang sepanjang Intifada Kedua. Lebih dari 6.000 mortir dan roket Qassam ditembakkan ke permukiman-permukiman itu selama periode ini, meski jumlah korban jiwa relatif kecil dibanding jumlah serangan. Sebagian besar serangan darat dilakukan gerilyawan Palestina lewat taktik infiltrasi, termasuk upaya lewat jalur laut.
Sejumlah insiden menonjol tercatat dalam basis data B’Tselem. Pada 20 November 2000, sebuah bus yang membawa warga sipil dekat permukiman Kfar Darom diledakkan, menewaskan seorang perempuan berusia 34 tahun. Pada 13 November 2000, seorang pria berusia 35 tahun dari Netivot tewas tertembak saat mengemudikan truknya di dekat Gush Katif. Serangan lain terjadi di pos pemeriksaan Karni pada 15 April 2003, ketika kelompok bersenjata Palestina menerobos masuk dan melepaskan tembakan, menewaskan seorang warga Sderot. Pada 14 Januari 2004, seorang perempuan tewas dalam bom bunuh diri di titik pemeriksaan Erez, zona industri Gaza utara.
Pada 2005, Jalur Gaza memiliki 21 permukiman Israel dengan sekitar 9.000 pemukim, berbanding sekitar 1,3 juta warga Palestina yang tinggal di wilayah itu. Ketimpangan demografis inilah, ditambah tingginya biaya militer untuk melindungi permukiman-permukiman yang terisolasi di tengah populasi Palestina yang jauh lebih besar, yang kelak menjadi salah satu alasan utama Israel menarik diri dari Gaza pada 2005.
Penutupan Ekonomi: Karni, Erez, dan Kehancuran Mata Pencaharian
Dampak Intifada Kedua terhadap Gaza tidak hanya berupa korban jiwa, tetapi juga keruntuhan ekonomi yang sistematis akibat penutupan perbatasan. Selama periode 123 hari antara 1 Oktober 2000 hingga 31 Januari 2001, perbatasan Israel-Palestina yang digunakan untuk arus tenaga kerja dan perdagangan ditutup selama 93 hari, atau 75,6 persen dari waktu tersebut. Pembatasan pergerakan internal diberlakukan penuh 100 persen waktu di Tepi Barat dan 89 persen waktu di Gaza, sementara perlintasan internasional ke Mesir dari Gaza ditutup 50 persen dari waktu tersebut.
Dampaknya terasa cepat pada tenaga kerja. Pada September 2000, diperkirakan 128.000 warga Palestina bekerja di Israel dan permukiman Israel; begitu Intifada pecah, pemerintah Israel awalnya memangkas drastis penerbitan izin kerja. Dua tahun kemudian, Produk Nasional Bruto (GNI) per kapita pada 2002 turun 40 persen dibanding 2000, dan tingkat pengangguran mencapai 53 persen dari angkatan kerja.
Gaza menanggung beban lebih berat dibanding Tepi Barat karena bergantung pada satu jalur ekspor-impor utama: pos perlintasan Karni. Sebelum Intifada Kedua pecah pada 2000, sekitar 26.000 orang diizinkan meninggalkan Gaza setiap hari melalui perlintasan Erez. Angka itu anjlok drastis dalam beberapa tahun berikutnya seiring meningkatnya penutupan berkala. Sejak awal Intifada, pelajar Gaza dilarang bepergian ke Tepi Barat, dan ekspor Gaza terpukul lebih jauh sejak 2003 akibat penutupan sporadis Karni. Pola penutupan perbatasan inilah yang oleh sejumlah lembaga kemudian disebut sebagai fondasi bagi blokade penuh yang diberlakukan setelah 2007 — jauh sebelum Hamas menguasai Gaza.
Operasi Militer Israel: Rainbow, Days of Penitence, dan Khan Yunis
Sepanjang 2000–2005, Israel melancarkan serangkaian operasi militer di dalam Jalur Gaza, dengan skala dan intensitas meningkat tajam pada 2004. Operasi terbesar adalah Operasi Rainbow in the Cloud di Rafah, berlangsung 12–24 Mei 2004, dipicu tewasnya sebelas tentara Israel dalam dua serangan terpisah terhadap kendaraan lapis baja M113. Human Rights Watch mencatat 59 warga Palestina tewas selama operasi itu, termasuk 11 anak di bawah usia 18 tahun dan 18 orang bersenjata. Militer Israel meratakan sekitar 300 rumah untuk memperluas zona penyangga di sepanjang perbatasan Gaza–Mesir, yang diperluas jauh ke dalam wilayah Gaza, sementara sebuah kebun binatang dan lebih dari 700 dunam (70 hektare) lahan pertanian turut hancur.
Beberapa bulan kemudian, antara 29 September hingga 16 Oktober 2004, Israel melancarkan Operasi Days of Penitence (Hari-Hari Pertobatan) di Gaza utara sebagai respons atas serangan roket berkelanjutan ke kota Sderot di Israel selatan. Operasi ini menewaskan sekitar 130 warga Palestina dan satu tentara Israel. Pada penghujung tahun yang sama, giliran Khan Yunis menjadi sasaran. Setelah pasukan Israel menarik diri dari Khan Yunis usai Operasi Orange Iron pada 18 Desember, dan serangan mortir serta roket Palestina berlanjut menyasar permukiman Gaza selatan, militer Israel melancarkan operasi lanjutan yang disebutnya sebagai manuver terbuka pada 22 Desember untuk meredam serangan tersebut — mencakup upaya pembunuhan terhadap dua pemimpin lokal Hamas, bentrokan dengan kelompok bersenjata setempat, dan penembakan ke area permukiman. Ketika pasukan ditarik pada 2 Januari, sebelas warga Palestina tewas — delapan orang bersenjata termasuk seorang pemimpin lokal Hamas dan tiga warga sipil — dengan sedikitnya 36 orang luka dan 14 rumah hancur total.
Salah satu peristiwa paling signifikan secara politik terjadi lebih awal, pada 22 Maret 2004, ketika helikopter serang Israel membunuh pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, dalam serangan di Gaza City — sebuah tindakan yang memicu gelombang kecaman internasional sekaligus meningkatkan popularitas Hamas di kalangan warga Gaza.
Skala Korban: Data yang Berbeda-beda
Menghitung korban jiwa Intifada Kedua secara persis sulit dilakukan karena metodologi yang berbeda antarlembaga. Menurut laporan tahunan B’Tselem yang dirilis awal Januari 2005, dari 803 warga Palestina yang tewas oleh militer Israel sepanjang 1 Januari–27 Desember 2004, sedikitnya 450 orang — termasuk anak-anak — tidak sedang terlibat dalam pertempuran ketika tewas. Total korban jiwa Palestina sejak pecahnya Intifada Kedua pada September 2000 hingga akhir 2004 tercatat 3.174 orang, termasuk 617 anak di bawah umur, sementara 940 warga Israel — termasuk 116 anak — tewas dalam periode yang sama. B’Tselem turut mencatat 107 warga Israel tewas di tangan pejuang perlawanan Palestina sepanjang 2004 saja, terdiri dari 40 tentara dan 67 warga sipil.
Data lain, dari organisasi hak asasi Israel yang sama pada September 2005, mencatat total 3.315 warga Palestina dan 972 warga Israel tewas sepanjang keseluruhan periode Intifada Kedua. Sumber-sumber lain menyebut angka lebih tinggi, hingga lebih dari 4.300 korban jiwa Palestina secara total — perbedaan ini umumnya berasal dari periodisasi yang tidak seragam serta metode verifikasi masing-masing lembaga.
Kematian Arafat dan Berakhirnya Intifada
Yasser Arafat, pemimpin Otoritas Palestina yang dituduh Israel mendalangi kekerasan, dievakuasi dari markasnya di Ramallah yang telah lama dikepung militer Israel, lalu meninggal di sebuah rumah sakit militer di Paris pada 11 November 2004. Penggantinya, Mahmoud Abbas, terpilih sebagai ketua Otoritas Palestina pada 9 Januari 2005 dan menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan Sharon di KTT Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Februari 2005 — momen yang secara umum dianggap sebagai penanda berakhirnya Intifada Kedua, meski insiden kekerasan sporadis berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya.
Konsekuensi: Penarikan Diri Israel dari Gaza, 2005
Konsekuensi paling langsung bagi Gaza datang tak lama setelah Intifada mereda. Sharon, yang lama dikenal sebagai pendukung kuat gerakan permukiman Israel, mulai mempertimbangkan penarikan diri dari Gaza sejak awal 2000-an, terutama setelah pecahnya Intifada Kedua — didorong oleh tingginya biaya mempertahankan permukiman yang terisolasi serta tantangan demografis menguasai populasi Palestina yang jauh lebih besar. Rencana disengagement disetujui kabinet Israel pada Juni 2004 dan disahkan Knesset pada Oktober 2004.
Rencana ini menuai penolakan keras dari gerakan pemukim, dengan warna oranye menjadi simbol perlawanan dan slogan “Yehudi lo megaresh Yehudi” (“Seorang Yahudi tidak mengusir Yahudi lain”) menjadi seruan utama oposisi. Antara 17–22 Agustus 2005, pasukan Israel mengevakuasi paksa warga yang tersisa dari 21 permukiman di Gaza — sekitar separuh pemukim telah meninggalkan wilayah itu secara sukarela sebelum tenggat 16 Agustus. Penarikan militer penuh rampung pada 21 September, dengan Israel tetap mempertahankan kontrol ketat atas Gaza dari darat, laut, dan udara, sementara Kementerian Dalam Negeri Israel mendeklarasikan Jalur Gaza sebagai “wilayah asing” pada hari yang sama. Berlawanan dengan rencana awal Sharon, pasukan Israel turut menarik diri dari perbatasan Gaza-Mesir (Rute Philadelphi), digantikan penjaga perbatasan Mesir berdasarkan protokol bilateral yang ditandatangani 1 September 2005.
Penarikan diri Israel dari Gaza pada 2005 tidak menghadirkan kemerdekaan penuh. Israel tetap menguasai perbatasan, wilayah udara, dan perairan Gaza — sebuah kondisi yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai peralihan dari kontrol militer langsung menjadi kontrol tidak langsung. Secara politik, disengagement ini justru memperlemah kendali Sharon atas Partai Likud, mendorongnya membentuk partai baru Kadima pada November 2005, sementara di kancah internal Palestina, Hamas dinilai sebagai pihak yang paling diuntungkan secara politik dari penarikan pemukim dan tentara Israel — keuntungan yang diterjemahkan menjadi kemenangan pemilu legislatif pada 25 Januari 2006. Pola inilah yang menjadi fondasi bagi blokade penuh yang diberlakukan Israel dua tahun kemudian, setelah Hamas mengambil alih kendali penuh atas Gaza pada pertengahan 2007.


